Jumat, 27 November 2009
"Jalan Kebenaran"
"Saat kalian menangkap para kafir itu, pukuli mereka! Allah akan
senang," Zahid memberi mereka semangat. Kerumunan yang terdiri dari
pria-pria muda, kaum muda dari rumah ibadahnya, mengayunkan tongkat
dan pipa besi dan bersorak dalam kesepakatan. Ia merasa dalam
keadaan baik-baik saja sebagai seorang petinggi agama yang masih
muda. Dan ia merasa orang tuanya akan bangga. Dalam beberapa menit,
ia dan teman-temannya menyisiri jalan-jalan desa dan mencari
orang-orang Kristen untuk dijebak.
Zahid memiliki garis keturunan yang membanggakan di Pakistan. Ayah
dan abangnya merupakan petinggi agama dan Zahid telah mengikuti
jejak mereka. Setelah ditugaskan di rumah ibadahnya untuk pertama
kalinya, kebencian Zahid terhadap orang Kristen mulai tampak dan ia
mulai mengumpulkan para pengikutnya untuk menentang mereka.
Pemerintahannya makin lama makin terpengaruh oleh salah satu hukum
agama yang menuntut kematian bagi siapa pun yang didapati bersalah
karena penghujatan atas nabi dan kitab suci mereka. Saat kegilaan
mereka memuncak, Zahid memimpin kelompoknya ke jalan-jalan, dan
tidak diperlukan waktu yang lama sampai mereka menemukan sekelompok
orang Kristen muda untuk diserang, pada saat dikejar salah satu dari
antara mereka menjatuhkan Alkitabnya.
Seorang anggota kelompok Zahid memungut Alkitabnya dan membukanya
untuk merobek-robek halamannya. Zahid senantiasa memberitahu para
pengikutnya untuk membakar semua Alkitab yang telah mereka
kumpulkan. Tetapi kali ini Zahid merasakan keinginan yang aneh untuk
menyimpan dan mempelajarinya serta mencari kesalahan-kesalahan yang
ada di dalamnya.
Zahid melaporkan dalam kata-katanya sendiri apa yang terjadi karena
menyimpan Alkitab itu: "Aku sedang membaca Alkitab, mencari
kontradiksi-kontradiksi yang dapat kugunakan melawan iman Kristen.
Tiba-tiba, sinar yang terang benderang muncul di kamarku dan aku
mendengar sebuah suara memanggil namaku. Cahaya itu demikian terang,
ia menerangi seluruh kamar. Suara itu bertanya, 'Zahid, mengapa kau
menganiaya Aku?' Aku ketakutan. Aku tak tahu apa yang baru
dilakukan. Kupikir aku sedang bermimpi. Aku bertanya, 'Siapakah
engkau?' Aku mendengar, 'Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.' Selama
tiga hari berikutnya cahaya dan suara itu kembali. Akhirnya, pada
malam keempat, aku berlutut dan menerima Yesus sebagai Juru
Selamatku."
Kebencian Zahid tiba-tiba lenyap. Ia ingin membagikan Yesus kepada
siapa pun yang ia kenal. Ia pergi kepada anggota-anggota keluarganya
dan mereka yang berada di rumah ibadah dan memberitahukan apa yang
telah terjadi kepadanya selama empat malam terakhir kepada mereka.
Keluarga dan teman-temannya berbalik menentangnya, ia ditangkap oleh
yang berwajib. Berdasarkan ajaran agamanya terdahulu, Zahid kini
dianggap sebagai orang yang murtad, seorang pengkhianat bagi agama,
dan dianggap seorang penjahat.
Zahid ditempatkan di dalam penjara selama dua tahun, dia disiksa
berulang-ulang. Satu waktu, mereka mencabut kuku-kukunya dalam upaya
mematahkan imannya; mereka mengikat rambutnya pada kipas angin di
langit-langit dan membiarkannya tergantung di sana. "Walaupun aku
menderita amat hebat dalam tangan penangkap-penangkapku, aku tidak
menyimpan kepahitan terhadap mereka. Aku juga pernah membenci
orang-orang Kristen. Menurut hukum agamaku dulu, aku harus
dieksekusi dengan cara digantung."
"Mereka berusaha memaksaku untuk menarik kembali imanku dari Yesus.
Tetapi aku tidak dapat menyangkal Yesus. Nabi agamaku dulu tidak
pernah mengunjungiku; Yesus pernah dan aku tahu bahwa Dia adalah
kebenaran. Aku hanya berdoa bagi para penjaga, berharap bahwa mereka
juga akan mengenal Yesus."
Pada hari Zahid akan digantung, ia tidak takut akan kematian saat
mereka datang untuk membawanya dari sel. Bahkan saat mereka
menempatkan jeratan di sekeliling lehernya, Zahid berkhotbah
mengenai Yesus kepada para penjaga dan pengeksekusinya. Ia ingin
agar nafas-nafas terakhirnya di bumi dipergunakan untuk memberitakan
kepada rekan-rekan bahwa Yesus adalah "jalan, kebenaran, dan hidup".
Zahid berdiri dengan siap untuk menghadap Juruselamatnya.
Tiba-tiba, suara-suara keras terdengar di ruangan luar. Para penjaga
bergegas memberitahu bahwa persidangan telah mengeluarkan perintah
untuk membebaskan Zahid, menyatakan bahwa tidak terdapat cukup bukti
untuk mengeksekusinya. Hingga hari ini, tak seorang pun tahu mengapa
Zahid tiba-tiba diizinkan untuk pergi dengan bebas.
Zahid mengganti namanya menjadi Lazarus, merasa bahwa ia pun telah
dibangkitkan dari kematian. Ia berkelana ke desa-desa di sekitar
rumahnya menyaksikan kelepasannya yang ajaib dari kematian. Mereka
melihat kesungguhan Zahid dan menerimanya ke dalam keluarga besar
Kristen.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar