“Dalam takut akan Tuhan ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anakNya.” Amsal 14:26
Secara kodrat manusia memiliki kecenderungan memberontak, tidak taat, senang melanggar dan secara sembunyi-sembunyi melakukan hal-hal yang justru dilarang Tuhan. Manusia pertama, Adam dan Hawa, telah memulainya dengan melanggar perintah Tuhan. Mereka memakan buah dari pohon yang berada di tengah-tengah taman Eden, padahal hal itu dilarang Tuhan untuk dimakan. Namun mereka memakan buah itu walau dengan alasan mereka menjadi korban tipu muslihat si Iblis. Sebenarnya apabila rasa takut akan Tuhan melebihi keinginan hatinya, tak mungkin terjadi pelanggaran itu. Setelah peristiwa itu mereka mulal tidak tenteram dan sejak itu muncullah perasaan takut yang pertama kali dalam hati manusia pertama itu sehingga “Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-joian dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.” (Kejadian 3:8). Saat Tuhan memanggil dan bertanya di mana mereka berada, mereka menjadi takut baca Kejadian 3:9-10).
Rasa ‘takut’ yang dimiliki Adam dan Hawa saat itu berbeda arti dengan ‘takut’ yang tertulis dalam ayat nas di atas. Kata ‘takut’ dalam Amsal 14:26 menunjukkan suatu rasa respek, hormat dan segan kepada Tuhan sehingga seseorang berusaha untuk taat. Sebaliknya kata ‘takut’ yang tertulis dalam Kejadian 2:10 menunjukkan ketakutan dalam diri seseorang karena ada dosa jang disembunyikan akibat pelanggaran terhadap firman Tuhan. Dengan keadaan ini timbullah rasa ketidaktenangan dalam batin karena dihantui terus oleh nasa bersalah.
Orang yang takut akan Tuhan akan bebas dari ketakutan karena padanya tidak ada dosa yang disembunyikan. Selalu ada penlindungan bagi keturunannya! Sekali pun mata manusia tak melihat, ia tetap memilih untuk hidup taat dan tidak melakukan kejahatan karena telah mengerti bahwa “. . . tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13).
Hidup dalam ketaatan dan kekudusan adalah bukti seseorang takut akan Tuhan!
Selasa, 15 Desember 2009
Jumat, 11 Desember 2009
"Diatur oleh Tuhan"
“pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya” Amsal 31:26b
Untuk mempersatukan dua manusia sebagai suami isteri, Allah telah mengatur bahwa haruslah ada ketaatan dan kasih dalam rumah tangga mereka. Dia tidak meminta suami atau isteri mencari kesalahan masing-masing. Dia tidak menetapkan suami-suami untuk menjadi instruktur isteri-isteri, atau isteri-isteri
untuk menjadi guru suami mereka. Seorang suami tidak perlu mengubah isterinya, demikian juga halnya dengan isteri. Bagaimanapun sifat dan keadaan pasangan hidupmu, hendaklah kau mengharap hidup dengannya selamanya. Mereka masing-masing harus belajar menutup mata akan kekurangan masing-masing. Mereka harus belajar mencintai, bukan mencoba mencari kesalahan masing-masing.
Sebagai orang Kristen kita harus belajar menyangkal diri. Menyangkal diri berarti melengkapi seorang terhadap yang lain. Keluarga butuh disiplin, berarti harus belajar mau menyisihkan pendapatnya sendiri dalam memberikan pertimbangan pasangan hidupnya. Pengajaran yang lemah lembut harus ada di lidah para isteri, baik terhadap anak-anaknya, maupun terhadap suami atau sesamanya.
Demikian pula sebagai mempelai Kristus, harus taat dan hidup setia kepada mempelai laki-laki, yaitu Kristus Yesus, tanpa mempedulikan keadaan dan situasi kita. Kita harus mempersembahkan kehidupan kita seutuhnya kepada Kristus, dan tidak hidup separuh buat ilah-ilah lain. Kata Tuhan, “Berpegangkah pada perintahKu, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu” (Amsal 7:2)
Isteri yang cakap lebih berharga dari pada permata.
Untuk mempersatukan dua manusia sebagai suami isteri, Allah telah mengatur bahwa haruslah ada ketaatan dan kasih dalam rumah tangga mereka. Dia tidak meminta suami atau isteri mencari kesalahan masing-masing. Dia tidak menetapkan suami-suami untuk menjadi instruktur isteri-isteri, atau isteri-isteri
untuk menjadi guru suami mereka. Seorang suami tidak perlu mengubah isterinya, demikian juga halnya dengan isteri. Bagaimanapun sifat dan keadaan pasangan hidupmu, hendaklah kau mengharap hidup dengannya selamanya. Mereka masing-masing harus belajar menutup mata akan kekurangan masing-masing. Mereka harus belajar mencintai, bukan mencoba mencari kesalahan masing-masing.Sebagai orang Kristen kita harus belajar menyangkal diri. Menyangkal diri berarti melengkapi seorang terhadap yang lain. Keluarga butuh disiplin, berarti harus belajar mau menyisihkan pendapatnya sendiri dalam memberikan pertimbangan pasangan hidupnya. Pengajaran yang lemah lembut harus ada di lidah para isteri, baik terhadap anak-anaknya, maupun terhadap suami atau sesamanya.
Demikian pula sebagai mempelai Kristus, harus taat dan hidup setia kepada mempelai laki-laki, yaitu Kristus Yesus, tanpa mempedulikan keadaan dan situasi kita. Kita harus mempersembahkan kehidupan kita seutuhnya kepada Kristus, dan tidak hidup separuh buat ilah-ilah lain. Kata Tuhan, “Berpegangkah pada perintahKu, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu” (Amsal 7:2)
Isteri yang cakap lebih berharga dari pada permata.
"Hidupmu Berharga"
Bagaimana mungkin kursi goyang yang harganya $3,000 bisa laku $453,000. Sebuah mobil bekas yang ditaksir bernilai $18,000 laku dilelang seharga $79,500. Gelas biasa yang ditaksir bernilai $500 ternyata bisa laku seharga $38,000. Sebuah kalung yang bernilai $700 bisa laku $211,500 atau mengalami peningkatan 302.000% dari harga normal! Sudah bayar sedemikian mahal, mereka masih mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Gila, bukan? Tetapi semua kegilaan itu bisa dimaklumi karena barang-barang yang dilelang tersebut adalah milik Jacqueline Kennedy Onassis. Yang membuat barang-barang tersebut laku mahal tentu saja bukan karena barang itu sendiri, tetapi karena siapa yang memilikinya.
Bagaimana dengan hidup kita? Sama seperti barang-barang lelangan tersebut, hidup kita sungguh berharga. Yang membuat kita berharga karena Dia yang memiliki kita, kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.
Ada dua kebenaran yang bisa kita petik melalui renungan hari ini. Pertama, jangan pernah sombong sebab yang membuat kita bernilai dan berharga bukan karena diri kita, tapi karena Tuhan. Kedua, ketika kita depresi karena merasa tidak berharga, ingatlah bahwa nilai kita ditentukan oleh Tuhan Yesus. Dia bersedia membayar dengan darah yang mahal hanya untuk menyelamatkan kita. Kita begitu berharga dan bernilai. Jangan pernah memiliki cara pandang yang miskin tentang diri kita sendiri.
Miliki rasa percaya diri, bukan karena diri kita, tetapi karena Tuhan Yesus yang memiliki kita. Hidup kita berharga bukan karena diri kita sendiri tapi karena Dia yang memiliki kita. " Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus ... bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal ... "(1 Petrus 1 : 18 - 19)
Tuhan Yesus Memberkati.
Bagaimana dengan hidup kita? Sama seperti barang-barang lelangan tersebut, hidup kita sungguh berharga. Yang membuat kita berharga karena Dia yang memiliki kita, kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.
Ada dua kebenaran yang bisa kita petik melalui renungan hari ini. Pertama, jangan pernah sombong sebab yang membuat kita bernilai dan berharga bukan karena diri kita, tapi karena Tuhan. Kedua, ketika kita depresi karena merasa tidak berharga, ingatlah bahwa nilai kita ditentukan oleh Tuhan Yesus. Dia bersedia membayar dengan darah yang mahal hanya untuk menyelamatkan kita. Kita begitu berharga dan bernilai. Jangan pernah memiliki cara pandang yang miskin tentang diri kita sendiri.
Miliki rasa percaya diri, bukan karena diri kita, tetapi karena Tuhan Yesus yang memiliki kita. Hidup kita berharga bukan karena diri kita sendiri tapi karena Dia yang memiliki kita. " Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus ... bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal ... "(1 Petrus 1 : 18 - 19)
Tuhan Yesus Memberkati.
Rabu, 09 Desember 2009
"Berserah"
Seorang anak kecil sedang bermain sendirian dengan mainannya. Sedang asyik-asyiknya bermain tiba-tiba mainannya itu rusak. Dia mencoba untuk mebetulkannya sendiri, tapi rupanya usahanya itu dari tadi sia sia saja. Maka dia mendatangi ayahnya untuk minta ayahnya itu yang membetulkannya.
Tapi sambil memperhatikan ayahnya dia terus memberikan instruksi kepada ayahnya, "Ayah, coba lihat bagian sebelah kiri, mungkin di situ kerusakannya." Ayahnya menurutinya, tapi ternyata belum betul juga mainannya.
Maka dia memberi komentar lagi," Oh, bukan di situ Yah, mungkin yang sebelah kanan, coba lihat lagi deh Yah." Kali ini ayahnya juga menurutinya, tapi lagi-lagi mainannya itu belum betul.
"Kalau begitu coba yang di bagian depan Yah, kali aja masalahnya ada di situ." Kali ini ayahnya marah," Sudah, kalau kamu memang bisa, mengapa tidak kamu kerjakan sendiri saja? Jangan ganggu Ayah lagi. Ayah banyak kerjaan lain."
Tapi setelah dia mencoba beberapa saat untuk membetulkan sendiri dan masih belum berhasil, maka akhirnya dia kembali kepada ayahnya sambil merengek. "Tolonglah Yah, aku suka sekali mainan ini, kalau rusak begini bagaimana? Tolong Ayah betulkan supaya bisa jalan lagi ya"
Karena tidak tega mendengar rengekan anaknya, si ayah akhirnya menyerah," Baiklah Nak. Ayah akan membetulkan mainanmu asal kamu berjanji tidak boleh memberitahu Ayah apa yang harus dilakukan. Kamu duduk saja dan perhatikan Ayah bekerja. Tidak boleh mencela."
Ketika ayahnya sedang memperbaiki mainannya, si anak mulai berkomentar lagi," Jangan yang itu Yah, kayaknya bagian lain yang rusak."
Tapi kali ini ayahnya berkata, " Kalau kamu berkomentar lagi, mainan ini akan ayah lepaskan dan silahkan kamu berusaha sendiri." Akhirnya karena takut ayahnya akan benar-benar melakukan apa yang dikatakannya, anak itu diam dan duduk manis melihat ayahnya membetulkan mainannya sampai bisa berjalan lagi tanpa mengeluarkan komentar apa pun.
Seperti anak kecil itu, kita pun sering kali berserah kepada Tuhan tapi masih ingin mengatur Tuhan bagaimana sebaiknya jalan hidup kita. Bila kita sungguh-sungguh pasrah kepada kehendak Tuhan, maka niscaya Tuhan yang adalah Maha Tahu dan sangat mencintai kita akan melakukan yang terbaik, lebih dari apa yang bisa kita pikirkan dan doakan, sesuai dengan kehendak-Nya. Biarlah Tuhan menjadi Tuhan, banyak manusia mengalami kegagalan dan ketidak seimbangan dalam hidup, karena sering mengambil alih pekerjaan Tuhan.
Tapi sambil memperhatikan ayahnya dia terus memberikan instruksi kepada ayahnya, "Ayah, coba lihat bagian sebelah kiri, mungkin di situ kerusakannya." Ayahnya menurutinya, tapi ternyata belum betul juga mainannya.
Maka dia memberi komentar lagi," Oh, bukan di situ Yah, mungkin yang sebelah kanan, coba lihat lagi deh Yah." Kali ini ayahnya juga menurutinya, tapi lagi-lagi mainannya itu belum betul.
"Kalau begitu coba yang di bagian depan Yah, kali aja masalahnya ada di situ." Kali ini ayahnya marah," Sudah, kalau kamu memang bisa, mengapa tidak kamu kerjakan sendiri saja? Jangan ganggu Ayah lagi. Ayah banyak kerjaan lain."
Tapi setelah dia mencoba beberapa saat untuk membetulkan sendiri dan masih belum berhasil, maka akhirnya dia kembali kepada ayahnya sambil merengek. "Tolonglah Yah, aku suka sekali mainan ini, kalau rusak begini bagaimana? Tolong Ayah betulkan supaya bisa jalan lagi ya"
Karena tidak tega mendengar rengekan anaknya, si ayah akhirnya menyerah," Baiklah Nak. Ayah akan membetulkan mainanmu asal kamu berjanji tidak boleh memberitahu Ayah apa yang harus dilakukan. Kamu duduk saja dan perhatikan Ayah bekerja. Tidak boleh mencela."
Ketika ayahnya sedang memperbaiki mainannya, si anak mulai berkomentar lagi," Jangan yang itu Yah, kayaknya bagian lain yang rusak."
Tapi kali ini ayahnya berkata, " Kalau kamu berkomentar lagi, mainan ini akan ayah lepaskan dan silahkan kamu berusaha sendiri." Akhirnya karena takut ayahnya akan benar-benar melakukan apa yang dikatakannya, anak itu diam dan duduk manis melihat ayahnya membetulkan mainannya sampai bisa berjalan lagi tanpa mengeluarkan komentar apa pun.
Seperti anak kecil itu, kita pun sering kali berserah kepada Tuhan tapi masih ingin mengatur Tuhan bagaimana sebaiknya jalan hidup kita. Bila kita sungguh-sungguh pasrah kepada kehendak Tuhan, maka niscaya Tuhan yang adalah Maha Tahu dan sangat mencintai kita akan melakukan yang terbaik, lebih dari apa yang bisa kita pikirkan dan doakan, sesuai dengan kehendak-Nya. Biarlah Tuhan menjadi Tuhan, banyak manusia mengalami kegagalan dan ketidak seimbangan dalam hidup, karena sering mengambil alih pekerjaan Tuhan.
Sabtu, 05 Desember 2009
"Kekuatan cinta kasih"
'Mengapa ada beberapa orang yang mampu melewati badai cobaan paling dahsyat dalam hidupnya dan tetap berdiri tegar. Sementara beberapa lainnya selalu mengeluh, complain terus tentang setiap gangguan kecil dalam hidupnya dan akhirnya semakin terpuruk?'
Ramesh menjelaskan-nya dalam kisah yang sangat indah ini.
'Suatu saat, hidup seorang yang sangat dipenuhi oleh roh kasih dalam hidupnya. Ketika ia meninggal, semua orang mengira bahwa manusia sepertinya pasti langsung masuk ke Surga.
Tetapi karena sesuatu dan lain hal, malaikat di Surga berbuat kesalahan. Ia kelewatan nama orang itu dan berpikir karena orang tersebut tidak terdaftar di Surga, tempatnya adalah di 'tempat satunya lagi' dan ia langsung mengirimnya ke Neraka!
Dan di Neraka, tidak ada yang men-cek reservasi anda. Semua yang dibuang di sana adalah penghuni abadi. Jadi begitulah, orang tersebut tinggal tanpa membantah karena ia berpikir mungkin dia belum layak untuk tinggal di surga.
Hanya seminggu kemudian, Raja Iblis pergi ke Surga. Marah-marah menuduh bahwa Kerajaan Surga telah melakukan terorisme di Neraka.
'Ada apa?', tanya malaikat Surga.
Sang Raja Iblis berteriak dengan murka.
"Apa maksud kalian mengirim orang ini ke Neraka. Dia benar-benar merusak tempatku. Sejak awal, dia tidak pernah membalas siapa pun yang menyakitinya. Malahan ia selalu mendengarkan, mengasihi dan menghibur yang lain. Sekarang semua penghuni di sekeliling orang ini mulai saling memeluk dan mengasihi satu dengan lainnya. Ini bukan Neraka yang ku-kehendaki. Ini orangnya aku kembalikan, aku tidak perduli. Pokoknya aku tidak bisa menerimanya di kerajaan-ku!"
Dan Ramesh menutup ceritanya dengan berkata,
"Maka hiduplah dengan penuh cinta dan kasih dalam hatimu. Sehingga apa pun yang terjadi denganmu, sampai sekalipun malaikat melakukan kesalahan dan mengirim-mu ke Neraka, Sang Iblis sendiri yang akan mengantarmu kembali ke Surga."
Ramesh menjelaskan-nya dalam kisah yang sangat indah ini.
'Suatu saat, hidup seorang yang sangat dipenuhi oleh roh kasih dalam hidupnya. Ketika ia meninggal, semua orang mengira bahwa manusia sepertinya pasti langsung masuk ke Surga.
Tetapi karena sesuatu dan lain hal, malaikat di Surga berbuat kesalahan. Ia kelewatan nama orang itu dan berpikir karena orang tersebut tidak terdaftar di Surga, tempatnya adalah di 'tempat satunya lagi' dan ia langsung mengirimnya ke Neraka!
Dan di Neraka, tidak ada yang men-cek reservasi anda. Semua yang dibuang di sana adalah penghuni abadi. Jadi begitulah, orang tersebut tinggal tanpa membantah karena ia berpikir mungkin dia belum layak untuk tinggal di surga.
Hanya seminggu kemudian, Raja Iblis pergi ke Surga. Marah-marah menuduh bahwa Kerajaan Surga telah melakukan terorisme di Neraka.
'Ada apa?', tanya malaikat Surga.
Sang Raja Iblis berteriak dengan murka.
"Apa maksud kalian mengirim orang ini ke Neraka. Dia benar-benar merusak tempatku. Sejak awal, dia tidak pernah membalas siapa pun yang menyakitinya. Malahan ia selalu mendengarkan, mengasihi dan menghibur yang lain. Sekarang semua penghuni di sekeliling orang ini mulai saling memeluk dan mengasihi satu dengan lainnya. Ini bukan Neraka yang ku-kehendaki. Ini orangnya aku kembalikan, aku tidak perduli. Pokoknya aku tidak bisa menerimanya di kerajaan-ku!"
Dan Ramesh menutup ceritanya dengan berkata,
"Maka hiduplah dengan penuh cinta dan kasih dalam hatimu. Sehingga apa pun yang terjadi denganmu, sampai sekalipun malaikat melakukan kesalahan dan mengirim-mu ke Neraka, Sang Iblis sendiri yang akan mengantarmu kembali ke Surga."
Kamis, 03 Desember 2009
"Ibu yang menakjubkan"
Di Amsal 31, Tuhan telah memberikan gambaran tentang tipe seorang ibu
dari wanita-wanita Kristen yang penuh kasih, memberi dukungan, murah
hati, dan bijaksana di dalam perkataan dan perbuatannya. Berserah
kepada pimpinan Roh Kudus adalah kunci untuk berubah sesuai dengan
yang Tuhan inginkan.
Menjadi seorang Ibu yang rohani dimulai dengan suatu hubungan
pernikahan. Allah mengajak para wanita untuk menunjukkan "karakter
yang mulia", penuh kasih, dan penuh sabar didalam memenuhi segala
kebutuhan suaminya. Roh Kudus akan menolong setiap orang percaya
menjadi dewasa melewati sifat pementingan diri sendiri menuju pada
kerendahan hati untuk menganggap pasangannya lebih utama dari dirinya
sendiri (Filipi 2:3). Bagi ibu-ibu yang sendirian membesarkan
anak-anak mereka, Allah akan mengajarkan prinsip ini dengan cara yang
berbeda.
Langkah ke dua adalah belajar untuk konsisten dalam mengampuni,
menerima, dan mengasihi secara agape. Tuhan menghendaki kita untuk
mengasuh anak-anak kita seperti teladan-Nya. Ia akan menunjukkan
bagaimana caranya mengadaptasi semua sikap dan tindakan yang tepat
sesuai dengan jenjang usia anak-anak ketika mereka menuju dewasa. Ia
juga menuntun para orang tua bagaimana memimpin anak-anak mereka
kepada Kristus.
Ketiga, Ia akan menyediakan segala ketrampilan yang dibutuhkan untuk
mengatur rumah-tangganya. Ia mengetahui bahwa lingkungan yang positif
dan rohani akan menolong setiap keluarga untuk berbuah. Apabila setiap
ibu mau menyerahkan hidupnya kepada-Nya, maka Ia akan melatih mereka
untuk jujur, rajin, dan disiplin.
Terakhir, Bapa sorgawi akan menyediakan hati yang berbelas kasih yang
sanggup melihat kebutuhan orang-orang lain dan memberikan pertolongan
sesuai pimpinan-Nya.
dari wanita-wanita Kristen yang penuh kasih, memberi dukungan, murah
hati, dan bijaksana di dalam perkataan dan perbuatannya. Berserah
kepada pimpinan Roh Kudus adalah kunci untuk berubah sesuai dengan
yang Tuhan inginkan.
Menjadi seorang Ibu yang rohani dimulai dengan suatu hubungan
pernikahan. Allah mengajak para wanita untuk menunjukkan "karakter
yang mulia", penuh kasih, dan penuh sabar didalam memenuhi segala
kebutuhan suaminya. Roh Kudus akan menolong setiap orang percaya
menjadi dewasa melewati sifat pementingan diri sendiri menuju pada
kerendahan hati untuk menganggap pasangannya lebih utama dari dirinya
sendiri (Filipi 2:3). Bagi ibu-ibu yang sendirian membesarkan
anak-anak mereka, Allah akan mengajarkan prinsip ini dengan cara yang
berbeda.
Langkah ke dua adalah belajar untuk konsisten dalam mengampuni,
menerima, dan mengasihi secara agape. Tuhan menghendaki kita untuk
mengasuh anak-anak kita seperti teladan-Nya. Ia akan menunjukkan
bagaimana caranya mengadaptasi semua sikap dan tindakan yang tepat
sesuai dengan jenjang usia anak-anak ketika mereka menuju dewasa. Ia
juga menuntun para orang tua bagaimana memimpin anak-anak mereka
kepada Kristus.
Ketiga, Ia akan menyediakan segala ketrampilan yang dibutuhkan untuk
mengatur rumah-tangganya. Ia mengetahui bahwa lingkungan yang positif
dan rohani akan menolong setiap keluarga untuk berbuah. Apabila setiap
ibu mau menyerahkan hidupnya kepada-Nya, maka Ia akan melatih mereka
untuk jujur, rajin, dan disiplin.
Terakhir, Bapa sorgawi akan menyediakan hati yang berbelas kasih yang
sanggup melihat kebutuhan orang-orang lain dan memberikan pertolongan
sesuai pimpinan-Nya.
Selasa, 01 Desember 2009
"Berbuah di Lidahku"
janganlah sekali kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum hukum Mu (mazmur 119:43)
Firman Tuhan masuk melalui mata dan telinga kita, bertumbuh di dalam hati dan pikiran kita, kemudian berbuah. terutama melalui bibir mulut dan lidah kita. Orang lain bisa mendengar iman kita, orang lain bisa mendengar pengharapan kita, orang lain bisa mendengar bunyi kasih kita melalui tutur kata kita
Ketika kita mengucapkan kata kata yang bertentangan dengan firman Tuhan, ketika orang lain mendengar kita lebih banyak bergosip ria ketimbang bersaksi tentang pengalaman rohani kita, ketika kita mengucapkan kata yang telah menyakiti orang lain dan kita malah menganggap tidak ada sesuatu yang salah maka sebenarnya FIRMAN TUHAN sudah gugur buahnya sebelum matang dari lidah kita. karena itu pastikan bahwa kita sedang mengucapakan buah firman Tuhan bukan yang lain.
Hukum itu berkaitan dengan keadilan. karena itu perhatikan apa yang saudara ucapkan. apakah masih ada buah keadilan di sana? bila saudara selalu mengucapkan sesuatu yang adil, maka tentunya buah keadilan itu akan saudara praktekkan kepada rumah tangga saudara, teman sekerja saudara, apalagi sesama anggota jemaat dimana saudara bergereja. pastikanlah itu !
Doa: Tuhan ku ingatkan selalu Tuhan agar setiap perkataanku yang keluar tidak mendukakan Engkau, Biar perkataanku selalu mengengcourage orang lain bukan discourage, sehingga aku tidak menjadi batu sandungan. amin
Firman Tuhan masuk melalui mata dan telinga kita, bertumbuh di dalam hati dan pikiran kita, kemudian berbuah. terutama melalui bibir mulut dan lidah kita. Orang lain bisa mendengar iman kita, orang lain bisa mendengar pengharapan kita, orang lain bisa mendengar bunyi kasih kita melalui tutur kata kita
Ketika kita mengucapkan kata kata yang bertentangan dengan firman Tuhan, ketika orang lain mendengar kita lebih banyak bergosip ria ketimbang bersaksi tentang pengalaman rohani kita, ketika kita mengucapkan kata yang telah menyakiti orang lain dan kita malah menganggap tidak ada sesuatu yang salah maka sebenarnya FIRMAN TUHAN sudah gugur buahnya sebelum matang dari lidah kita. karena itu pastikan bahwa kita sedang mengucapakan buah firman Tuhan bukan yang lain.
Hukum itu berkaitan dengan keadilan. karena itu perhatikan apa yang saudara ucapkan. apakah masih ada buah keadilan di sana? bila saudara selalu mengucapkan sesuatu yang adil, maka tentunya buah keadilan itu akan saudara praktekkan kepada rumah tangga saudara, teman sekerja saudara, apalagi sesama anggota jemaat dimana saudara bergereja. pastikanlah itu !
Doa: Tuhan ku ingatkan selalu Tuhan agar setiap perkataanku yang keluar tidak mendukakan Engkau, Biar perkataanku selalu mengengcourage orang lain bukan discourage, sehingga aku tidak menjadi batu sandungan. amin
Langganan:
Postingan (Atom)
